#EGSAFAIR2013

Minggu, 27 Februari 2011

Telaga Sekitar Bengawan Solo Purba

Sungai Bengawan Solo Purba terletak pada zona selatan atau yang disebut dengan wilayah pengembangan Gunung Sewu. Batu kapur sebagai batuan dasar pembentuk merupakan titik awal pengaruh kawasan karst terhadap karakteristik kondisi dan ketersediaan air di wilayah ini. Air permukaan tidak ditemukan kecuali pada beberapa telaga saja, sebagian besar telaga kering sejak beberapa tahun yang lalu.

Gambar Telaga Banteng di Desa Melikan, Kecamatan Rongkop

Menurut Bogli (1980), ada 4 macam proses pembentukan doline, yaitu doline pelarutan, doline aluvial, doline amblesan, dan doline runtuhan. Doline pelarutan terbentuk karena pelarutan yang terkonsentrasi akibat dari keberadaan kekar, pelebaran pori–pori batuan, atau perbedaan mineralogi batuan karbonat. Doline pelarutan terbentuk hampir di sebagian besar awal proses karstifikasi. Sedangkan doline amblesan terjadi apabila lapisan batugamping ambles secara perlahan–lahan karena di bawah lapisan batugamping tedapat rongga. Doline tipe ini dicirikan oleh terdapatnya rombakan batugamping dengan sortasi jelek di dasar doline dan lereng yang miring hingga terjal. Doline runtuhan terjadi bila runtuhan terjadi seketika. Doline tipe runtuhan dicirikan oleh lereng curam hingga vertikal.
Desa Melikan, Kecamatan Rongkop
Telaga Banteng merupakan satu-satunya telaga yang masih dapat dimanfaatkan dari 9 telaga yang tercatat dalam Peta RBI Lembar Pracimantoro skala 1:25.000 dan memiliki luas 1.262 m2. Luas ini merupakan luas yang dibentuk oleh warga dengan membendung telaga sesuai dengan bentuk cekungan yang ada. Hal ini bertujuan untuk menghalangi masuknya air ke dalam ponor dan diaklas.
Berdasarkan hasil wawancara, telaga ini dimanfaatkan untuk kegiatan mandi, cuci dan kakus. Dominasi pencemar di telaga ini berupa sampah-sampah plastik akibat kegiatan tersebut. Sampah-sampah plastik dapat ditemukan hampir di setiap tepi telaga dan sejauh ini tidak ada upaya untuk memindahkannya dari kawasan telaga.
Telaga Ngersan merupakan telaga yang sudah lama kering, yakni sejak tahun 2006. Penyebab keringnya telaga ini adalah terbukanya ponor yang terletak di tengah telaga. Saat ini Telaga Ngersan telah mengalami alih fungsi menjadi tegalan. Tanaman yang dibudidayakan pada bekas telaga ini antara lain jagung, singkong dan padi gogo. Alih fungsi ini telah terjadi sejak awal tahun 2010. Tidak ditemukannya sisa-sisa runtuhan seperti stalagtit dan stalagmit, serta kenampakan di lapangan yang menunjukkan banyaknya bukit-bukit karst menunjukkan proses perlarutan yang membentuk telaga ini.

Desa Jerukwudel, Kecamatan Girisubo
Telaga Tekil merupakan satu-satunya telaga yang berfungsi di desa ini. Total jumlah telaga yang ada di Peta RBI Lembar Paranggupito skala 1:25.000 adalah sebanyak empat telaga. Telaga telah dibendung sedemikian rupa sehingga banyak ponor dan diaklas tertutup. Antisipasi terbukanya ponor juga dilakukan dengan membendung inlet telaga agar debit air yang juga memiliki daya tekan tidak mengerosi dasar dan tepi telaga.
Telaga Ngrancah merupakan satu dari telaga mati di desa ini yang sudah  beralih fungsi menjadi tegalan dengan bentuk telaga yang sudah tidak begitu jelas. Namun keberadaan telaga ditandai oleh adanya pohon-pohon besar dan tua, seperti yang ditemukan pada beberapa telaga kering lainnya.

Gambar Telaga Ngrancah diDesa Jerukwudel, Kecamatan Girisubo

Telaga mati lainnya terletak di sebelah selatan Telaga Ngrancah dan merupakan telaga yang sudah mati sehingga dimanfaatkan sebagai tegalan (lahan pertanian padi gogo dan singkong) oleh sebagian warga sekitar telaga. Bukti fisik berupa sortasi yang buruk pada beberapa singkapan batuan yang ditemukan di bagian utara telaga dan bekas stalagtit dan stalagnit pada bagian selatan telaga menunjukkan kemungkinan proses pembentukan berupa amblesan.

Gambar Telaga Guntur diDesa Jerukwudel, Kecamatan Girisubo

Desa Pucung, Kecamatan Girisubo

Telaga-telaga di desa ini sudah kering ini telah beralih fungsi menjadi tegalan. Warga setempat memanfaatkan Telaga Sudra sebagai lahan menanam padi gogo dan singkong. Sedangkan Teaga Pucung dimanfaatkan untuk lapangan sepakbola saat musim kemarau. Keringnya telaga-telaga ini diakibatkan oleh ponor dan diaklas yang terbuka kembali, sehingga air yang masuk ke dalam telaga tidak dapat ditampung secara baik.

Gambar Telaga Sudra (kiri)dan Telaga Pucung (kanan), Desa Pucung, Kecamatan Girisubo yang Telah Mengalami Perubahan Fungsi Lahan

Desa Songbanyu, Kecamatan Girisubo
Telaga Mesu merupakan telaga yang harus memperoleh perbaikan di bagian dasar dan tepi telaga agar bisa berfungsi kembali. Sebagian besar bangunan telaga ini mengalami kerusakan daam bentuk retakan pada tepi telaga. Telaga ini diduga terbentuk karena adanya dua proses doline, yaitu doline pelarutan dan doline runtuhan. Kenampakan fisik berupa kemiringan lereng yang tidak terjal (hampir landai) di sebelah selatan dan lereng yang curam (hampir vertikal) di sebelah utara telaga menunjukkan dua proses yang mengawali pembentukan telaga yakni pelarutan dan runtuhan.
Telaga-telaga lainnya yang mengalami kekeringan dan sudah beralih fungsi di antaranya adalah Telaga Wonolagi dan Telaga Karet. Telaga ini sudah tidak dapat dimanfaatkan lagi sekitar 3 – 5 tahun sehingga sudah tidak ditemukan bentuk telaga yang tegas kecuali keberadaan pohon-pohon yang besar dan tua yang menandakan adanya air dalam jumlah banyak di daerah itu (baik di permukaan maupun di bawah permukaan).
Penelitian yang telah dilakukan di kawasan Bengawan Solo Purba yang meliputi empat desa yaitu Desa Melikan, Jerukwudel, Pucung dan Songbanyu di Kabupaten Gunung Kidul menghasilkan dua telaga yang masih berfungsi dari 32 telaga yang ada pada tahun 1999 (Peta RBI, 2001). Telaga yang masih dapat dimanfaatkan adalah Telaga Banteng di Desa Melikan dan Telaga Tekil di Desa Jerukwudel. Sedangkan telaga yang lainya sudah mati atau sudah tidak mampu lagi menampung air. Telaga-telaga yang sudah mati ini dimanfaatkan oleh penduduk sebagai tegalan, sawah tadah hujan untuk tanaman padi gogo dan singkong serta bangunan sekolah dasar. Hilangnya telaga-telaga tersebut tidak terlepas dari faktor alam dan faktor buatan manusia.
Berdasarkan hasil survei lapangan, ada dua faktor yang menyebabkan hilangnya telaga-telaga di empat desa tersebut, yaitu ponor yang terbuka kembali dan perubahan penggunaan lahan. Namun, sebagian besar telaga kehilangan kemampuannya untuk menampung air karen ponor yang terbuka kembali. Telaga (danau doline) dapat terbentuk apabila ponor-ponor tertutup oleh sedimen sehingga air yang masuk ke telaga tidak akan lolos menuju bawah permukaan. Ponor dapat terbuka karena amblesan atau runtuhan dan pengerukan sedimen pada dasar telaga.
Perubahan penggunaan lahan sebagai penyebab matinya telaga dapat ditemukan pada Telaga Dawe di Desa Melikan. Pembangunan jalan di selatan telaga mengakibatkan proses sedimentasi semakin intensif pada telaga sehingga volume genangan telaga semakin berkurang dan akhirnya telaga menjadi kering.

Gambar Ciri Pelarutan pada Telaga Mesu
  
Kedua telaga ini kering karena terbukanya ponor dan diaklas di dalam tubuh telaga. Telaga Wonolagi dimanfaatkan oleh warga sebagai tegalan, sedangkan Telaga Karet sudah berubah fungsi menjadi tegalan dan bangunan sekolah dasar.

1 komentar:

  1. artikelnya bagus,, boleh copy..??
    jerukwudel.co.cc

    BalasHapus